Dukung Gelaran Piala Dunia U-17, Dinding Pop Stasiun Kota Dihiasi Gambar Karakter Bacuya dan Markot Sulo Bolo

 

SURABAYA , 11 Nopember 2023  – Bermula dari keinginan turut memeriahkan pesta Piala Dunia U-17, dinding Pop Stasiun Kota Surabaya pun jadi ajang ekspresi karya seni yang menarik bagi setiap tamu hotel di kawasan Surabaya Utara tersebut.
Bacuya ikon FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023 berupa badak bercula satu warna cokelat dibalut kostum merah putih didampingi Sulo Bolo, ikon khas Surabaya dengan latar stadion sepak bola ini dibuat selama empat hari tiga malam.
Reno Fadhil Alkamal, FO Leader Pop Stasiun Kota dan Komang Bayu Tri Junias Sales Executive Pop Stasiun Kota bekerja sama menghias dinding di area drop off hotel yang bernaung di bawah bendera The Ascott Limited tersebut.
“Kesulitan paling besar adalah saya belum pernah bikin gambar karakter,” ujar Reno.
Reno mengaku selama ini dia lebih fokus pada seni graffiti dan mural. “Saya gak ada basic gambar karakter. Selama ini seringnya menggambar dengan ide-ide liar memakai font besar karena menggambarnya juga di tembok besar,” papar pria yang menempelkan label ‘Beno’ di setiap karyanya.

Reno mengatakan, menggambar karakter tidak semudah menggambar graffiti dan mural. “Karena gambar karakter sudah ada pakemnya yang tak bisa dikreasi. Tak boleh menyimpang. Harus sesuai template-nya,” urainya.

Begitu pula dengan maskot Surabaya. “Sama-sama gak boleh diotak-atik. Padahal, selama ini saya pakai imajinasi liar setiap berkarya. Sedang (gambar karakter) ini harus teliti pemakaian font seperti juga konsep warna seperti apa. Tak boleh keliru,” tuturnya.

Jadi, lanjut Reno, menggambar karakter ini merupakan tantangan pertama yang dia lakukan. “Dan menggambarnya di dinding hotel pula. Selama ini rata-rata artis graffiti besar yang bisa gambar di hotel,” cetusnya.
Karena itu, Reno mengaku mendapat kehormatan ketika diberi kesempatan menggambar di dinding hotel tempatnya bekerja itu. “Kesempatan besar yang berakhir rasa puas pada diri kami,” ucapnya gembira.

Langkah pertama yang dilakukan Reno dan Komang adalah membuat sketsa stadion, Sabtu (4/11/2023) malam. “Kami pakai tangga dan lampu sorot dari projektor. Sketsanya ‘ditembak’ pakai projektor ke dinding. Kami selesaikan sketsa ini selama 2,5 jam,” imbuh Reno.

Esoknya, di hari Minggu pukul 10.00 mereka mulai menggarap gambar stadion dan lapangan hijaunya. “Pukul 20.00 kami berhenti. Itu baru selesai 60 persen. Proses menggambar ini semua selesai hari Selasa,” kata Reno.
Keribetan lain yang dihadapi Reno dan Komang adalah merapikan garis di sisi-sisi gambar sehingga terkesan jadi tiga dimensi. “Menentukan warna juga jadi tantangan tidak mudah bagi kami,” cetus Reno.

Dia lalu menunjuk stadion yang awalnya warna merah, tetapi karena ‘tabrakan’ dengan kostum Bacuya, maka diganti warnanya jadi oranye. “Kalau kostum Bacuya yang full red itu kan gak bisa diganti,” ujarnya.

Tak hanya soal menggambar karakter dan menentukan warna. Faktor cuaca yang terik saat mereka menyelesaikan tugas menggambar tersebut juga jadi tantangan yang dapat mengganggu konsentrasi.

“Karena itu, kami tidak forsir energi agar mood tetap terjaga dan hasil gambar maksimal,” tandas Komang.
Yang juga sempat mengganggu konsentrasi mereka adalah ketika sampai sesi membuat maskot Sulo Bolo. Agar bisa fokus, Reno dan Komang sepakat menggambar Sulo dan Bolo terpisah. “Saya bagian gambar Bolo, sedang Reno bagian Sulo. Bedanya, gambar maskot Sulo Bolo ini tanpa sketsa lebih dulu seperti waktu menggambar stadion. Langsung pakai kuas,” kata pria yang mencantumkan label ‘Mang’ di karyanya ini.

Mulai mereka kerjakan pukuk 18.00, mascot Sulo Bolo itu baru tuntas lewat tengah malam, yaitu hampir pukul 02.00. “Yang lama mikir ide font-nya agar sebagus mungkin. Karena sudah banyak warna yang muncul malah bikin kami bingung, mau pakai warna apa lagi untuk font agar semuanya jadi satu kesatuan,” imbuhnya.
Untuk menentukan font Sulo Bolo ini mereka bahkan sampai sempat adu argumentasi dan menghabiskan satu kaleng cat semprot hanya untuk menghapus font sebelumnya. “Menentukan font ini sampai berubah 2-3 kali agar komposisinya pas. Akhirnya kami sepakat pakai font yang ternyata justru sangat simple. Sebelumnya malah lebih rumit,” ucap Komang.
Total mereka habiskan lima kaleng cat tembok dan 18 kaleng cat semprot untuk menyelesaikan karya seni menarik di dinding Pop Stasiun Kota tersebut. “Ini wujud partisipasi kami untuk turut menyemarakkan gelaran Piala Dunia U-17,” ujar Odex Damanik, HM Pop Stasiun Kota Surabaya.

Apalagi, kata wanita asal Batak ini, prosesi pembukaan FIFA U-17 World Cup Indonesia 2023 dilakukan di Kota Surabaya. “Kita nggak tahu kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia. Jadi kita harus bangga dengan kesempatan ini. Dan (karya seni) inilah yang bisa kami ekspresikan sebagai bentuk rasa bangga itu,” celetuk Odex yang menjagokan tim Eropa, Jerman jadi jawara Piala Dunia U-17 2023. (dy)

Artikulli paraprakUM Surabaya Disiapkan Jadi Tuan Rumah Uji Publik Prabowo – Gibran
Artikulli tjetërAgussalim, Putra Terbaik Aceh Dalam Pusaran Kongres HMI ke 32 di Pontianak