KH. DR. Achmad Rubaie, SH, MH : Puasa Adalah Jalan Pulang Menuju Rumah Surga

Prosiar, Surabaya – KH. DR. Achmad Rubaie, SH, MH Dosen Fakultas Hukum Universitas dr. Soetomo, Mantan Anggota DPR RI mengisi khutbah Sholat Ied Berjamaah pada Hari Raya Idul Fitri 1444 H di Masjid Universitas dr. Soetomo, Kecamatan Ngagel, Kota Surabaya.

Berikut kesimpulan dan rangkuman Kyai Achmad Rubaie sapaan akrabnya yang dihimpun Syafrudin Budiman SIP Wartawan Senior di lokasi Universitas dr. Soetomo, Kota Surabaya, Sabtu (22/04/2023).

“Patut kita bersyukur di pagi yang cerah ini, kita dapat duduk bersimpuh memenuhi seruan panggilan Allah SWT untuk melaksanakan Ibadah Sholat Idul Fitri 1444 H. Yang sebelumnya kita awali dengan bertakbir Allahuakbar, bertahlil Lailahailallah dan kemudian kita bertahmid Walillahilham,” ucapnya.

Menurutnya, Takbir, Tahlil dan Tahmid itu perintah Allah SWT, sebagaimana tertuang dalam surah Al Baqarah ayat 185. Wahai kaum muslimin setelah melaksanakan ibadah saum, hendaklah sempurnakan bilangan ramadhan-mu itu dan kemudian bertakbirlah dengan takbir sampai pada pertunjukannya kepada kalian, agar kalian bersyukur.

“Takbir yang kita kumandangkan mengawali sholat idul fitri ini, bukanlah sembarang takbir, tetapi merupakan takbir yang khusus dan merupakan takbir yang khas. Dimana takbir itu hanya kita dengar ketika kita sholat idul fitri dan ketika kita sholat idul adha,” paparnya

Kemudian kata Achmad Rubaie, takbir ini bukan takbir sembarang, tapi takbir ini keluar dari sebuah proses olah batin, olah rasa dan olah rasio, satu bulan lamanya kita menjalankan perintah ibadah saum (red-puasa ramadhan). Kemudian setelah selesai bertakbirlah, sehingga dengan demikian takdir ini bukanlah takbir sembarang takbir.

“Tetapi takbir yang memang lahir dari proses olah batin, olah rasa dan olah rasio, adalah hasil dari sebuah kesadaran. Bahwa kala itu memang maha besar, Allah itu robbussamawati wal ard, Allah lah pencipta, pengatur langit dan bumi,” tambahnya.

Kata Achmad Rubaie, mau hujan, mau terang, mau gelap, mau terang musim dibagi oleh Allah SWT, karena apa, karena Allah robbussamawati wal ard. Kesadaran ini lahir dari sebuah proses perenungan, keimanan seperti ini lahir dari proses kontemplasi.

“Bukan sehari dua hari, tetapi satu bulan lamanya, diasah dan diasuh oleh pesantren ramadhan yang memang  Allah SWT wajibkan. Supaya sukma dan batin kita sampai kepada kesadaran, bahwa memang Allah SWT maha besar, sang pencipta dan pengatur semesta,” teragnya.

Allah SWT memang besar, kebesarannya tidak hanya Allah itu pencipta dan pengatur alam semesta. Tetapi kekuasaan Allah itu meliputi seluruh jagad raya ini. Allah SWT firmankan di dalam surah Al Baqarah ayat 255.

“Maka olah rasa, olah rasio yang sudah sampai pada kesadaran, bahwa singgasan kekuasaan hanya milik Allah SWT, karena memang ada petunjuknya, singgasana Allah SWT meliputi seluruh langit dan bumi. Yang didalamnya Allah SWT gengamkan kita semua,” ucap Politisi kawakan dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini

Menurut Achmad Rubaie, maka langit dan bumi beserta isinya, termasuk hamba-hamba-Nya dan termasuk kita semua ini, berada dalam genggaman pemeliharaan dan kekuasaan Allah SWT semata.

“Dan lebih-lebih sidang Ied, Allah memelihara kita itu dengan rahman dan rahimnya tidak merasa letih,” ujarnya.

Kata dia, Allah SWT dalam penutup surah Al Baqarah 255 itu menyatakan, kepada kita supaya kita mengerti bahwa Allah tidak pernah sedikitpun lelah mengurusi kehidupan kita.

“Maka dari itu kita bertakbir, Allahuakbar Allahuakbar. Engkau Maha Besar ya Rab, Engkau Maha Besar ya Rab,” ucap Achmad Rubaie dengan lantang.

Ia meneguhkan bahwa, olah rasa, olah batin dan olah rasio satu bulan lamanya, pastinya mengantarkan kesadaran dalam hati kita. Bahwa Allah SWT dzat yang Maha Pencipta, Maha Pengatur. Bahwa Allah SWT dzat yang Maha Kuasa.

“Dan lebih-lebih Allah SWT menyatakan, Allah SWT di dalam berkuasa itu tidak boleh ada satupun yang dapat menyainginya,” ungkap pria asal Sampang Madura ini.

Begitulah Allah SWT menyebutkan dalam Surah pendek Al Ikhlas pada ayat ke 4, berbunyi, Wa lam yakul-lahu kufuwan ahad. Artinya, Dan tidak ada sesuatu yang setara (red-menyamai) dengan Dia.

Ayat ini menegaskan kepada kita, Allah SWT menyatakan tidak ada satupun di alam semesta ini yang dapat menyamai Allah. Dalam hal apapun, dalam ilmunya Allah SWT menyatakan, sekiranya lautan menjadi tinta kemudian dipergunakan untuk menulis ayat Allah tidak cukup lautan itu

“Dan kemudian tinta sebanyak laut sebelumnya itupun juga tidak cukup. Maka begitulah Allah SWT tidak dapat disamai. Tidak ada yang bisa menyamai kekayaan Allah SWT, karena Allah SWT langit dan bumi ciptaan-Nya dan milik-Nya,” tegas Achmad Rubaie.

Maka dari itu, renungan ramadhan olah rasa, olah batin dan olah rasio selama ramadhan harus mengantarkan pada keyakinan dan satu kesadaran. Wa lam yakul-lahu kufuwan ahad

“Dengan demikian takbir yang kita ucapkan bukan sembaran takbir, akan tetapi takbir yang khusus dan takbir yang khas. Yang hanya kita dengar saat kita melaksanakan sholat Ied,” papar Mantan Anggota DPR RI dan DPR Propinsi Jawa Timur dua periode ini.

Kemudian setelah kita bertakbir, kita bertahmid, kita bertahlil yang mengawali sholat idul fitri bukanlah sembarang tahmid dan sembarang tahlil yang lahir dari sebuah proses perenungan, lahir dari sebuah kontemplasi, lahir dari olah rasa dan olah batin. Dimana kita mengatakan, Lailahailallah, tiada tuhan selain Allah.

“Didahului dengan kata Lailahailallah, yaitu kalimat kata penyangkalan. Kita sangkal semua sesuatu yang dianggap tuhan. Illallah yang kita ucapkan itu merupakan kesadaran dari proses puasa,” tukasnya.

Lanjut Achmad Rubaie, harus menyadarkan pikiran kita pada penyangkalan-penyangkalan terhadap tuhan-tuhan palsu. Harus kita lakukan penyangkalan-penyangkalan terhadap sesuatu-sesuatu yang salah dari tuhan.

“Seolah-olah dapat memberikan manfaat pada kita, Seolah-olah menghindari mudarat pada kita. Tahlil yang kita ucapkan, dengan renungan kontemplasi ibadah ramadhan itu mengantarkan, hanya mengantarkan kita men-Tuhankan Allah, Illallah,” lanjutnya.

 

Kata dia, kalimat tahlil ini harus, membawa sebuah kesadaran yang mensukmakan batin kita, yang dominan itu hanya Allah SWT. Dan Allah lah yang absolut dalam kehidupan kita.

“Selain Allah relatif. Lailahailallah relatif dan Illallah absolut. Maka setelah kita berpuasa supaya menjadi orang baru yang dominan dalam sukma dan batin kita. Konstruksi spiritual kita harus didominasi oleh keyakinan hanya semata-mata Allah SWT. Robbussamawati wal ard dan Wa lam yakul-lahu kufuwan ahad,” jelasnya.

Apabila kesadaran tahlil kita sudah seperti itu (red-sempurna), Insya Allah kita berada pada jalur on the track atau Ihdinassirotol Mustaqin. Maka dari itu renungan olah rasa, olah batin dan olah rasio di dalam bulan ramadhan atau pesantren ramadhan harus mengantarkan pemahaman tahmid seperti yang disampaikan.

“Agar apa? seperti doa yang kita mohon kepada Allah SWT, Ihdinassirotol Mustaqin, Sirotolladina An-amta Alaihim,” ucapnya.

“On the track jalan yang lurus, jalannya siapa itu? Jalannya orang-orang yang telah Allah beri nikmat itu. Jalannya para nabi, para rasul, para sahabat-sahabat, masyayikh, ulama dan imam-imam. Beliau-beliau itu didominasi spiritualitasnya hanya men-Tuhankan Allah SWT dalam dirinya. Lailahailallah,” sambungnya.

Lailahailallah juga sebuah deklarasi. Kalau para hadirin bertahlil memantapkan Lailahailallah berulang-ulang mulai dari jam 5 sampai jam 6 pagi menyampaikan itu adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan, bahwa kita tidak akan ber-Tuhankan selain Allah SWT.

“Penyangkalan itu pernah dilakukan oleh Musa terhadap simbol-simbol ketuhanan yang dihadirkan Fir’aun berupa kekuatan-kekuatan sihir. Penyangkalan itu juga dilakukan Nabi Besar Ibrahim terhadap simbol-simbol berhala dan Nabi-nabi lainnya,” tuturnya Achmad Rubaie.

Terakhir kata dia, puasa ramadhan adalah jalan pulang menuju rumah surga yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada hamba-hambanya yang beriman. Surga yang kekal dan abadi adalah rumah tujuan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa dengan menjalankan sholat, ibadah puasa dan beramal sholeh.

“Dan yang terpenting jalan pulang menuju rumah surga adalah terus yakin bahwa Lailahailallah dan Muhammadarrasull. Tiada yang mengimbangi dan menyaingi selain Allah SWT,” tutup Achmad Rubaie. (red)

Penulis: Syafrudin Budiman SIP/ Gus Din